Minggu, 01 Mei 2011

Anakku, Terlahir Bukan Untuk Kekerasan

anak kecil berpipi mulus,

seketika tangis meledak membumbung asapi atap rumah

setelah, sang bapa dengan gagahnya melontarkan tamparan dahsyat

tidak merasa bersalah

karena anak adalah sebuah darah daging

karena orangtua berhak melukis pipi anak dengan displin

tamparan tertumpah begitu saja

hanya karena merengek untuk ice cream

benarkah hanya sekedar disiplin militer

apakah bukan karena atasannya menggebrak meja karena urusan tak beres

bukan karena tak rela uang rokok diganti secuil ice cream

atau karena letih melangkah akibat seharian membanting tenaga

murid SD berkulit mulus

seketika mengerang menyembunyikan garis merah di kulit putih

setelah, guru berkumis mengayunkan mistar saktinya

tidak merasa bersalah

karena murid adalah tanggung jawab

mengayunkan mistar ke siapa saja, adalah hak maha guru

mistar terayun begitu saja

hanya karena buku prnya tertinggal di rumah

benarkah disiplin belanda itu masih jadi alasan

apakah bukan karena semalam kumis lebatmu disemprot omelan istri

bukan karena gajian masih lama datang

atau karena letih memberi les tambahan semalaman

apapun alasanmu

menghunjam emosi pada pipi dan kulit mulus adalah kekerasan terhadap anak

kekerasan itu adalah kriminal tak beradab

jangankan tamparan,

makian dan teriakkan kotor ke gendang telinga anakpun

adalah luka dalam tak tersembuhkan

bagaimanapun kondisi biologismu saat itu,

meski bara merah melintas di lipatan otak

meski emosi memanasi kulit kepala

jangan sekalipun kau hunjamkan kekerasan pada anak tak berdaya

seringkali emosi berlindung atas nama mendidik disiplin anak

anak terlahir ke dunia untuk disayang tanpa kekerasan

bawaan hidup ini jangan sekalipun didustakan

kekerasan bukanlah hak anak


( Sumber : Poems and Songs for Children )

Tidak ada komentar: